Senin, 27 Apr 2026
Daerah  

Menag : Paskah Nasional Momentum Penting Perkuat Toleransi dan Persatuan

Menag dan Gubernur Penutupan Paskah Nasional V tahun 2026, bertempat lapangan Sar Brimob Desa Loru, Minggu (26/4/2026) malam. FOTO:ISTIMEWA

SIGI, SIRANINDI – Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Paskah Nasional V 2026 bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan momentum penting untuk memperkuat toleransi, persatuan, dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri penutupan Paskah Nasional V Tahun 2026 yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan kasih-Nya, kita dapat hadir bersama dalam suasana damai dan penuh sukacita. Acara ini bukan sekadar penutupan, tetapi juga peristiwa iman dan refleksi kebangsaan,” ujarnya.

Menurutnya, makna Paskah tidak hanya relevan bagi umat Kristiani, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Nilai pengorbanan, kebangkitan, dan harapan, kata dia, harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Di tengah berbagai tantangan global, kita diingatkan bahwa kebangkitan sejati tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata, memperkuat solidaritas, persatuan, dan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu dan Kabupaten Sigi, sebagai tuan rumah yang dinilai berhasil menunjukkan praktik nyata kerukunan antarumat beragama.

“Di daerah ini kita melihat bagaimana keberagaman suku, budaya, dan agama berpadu dalam harmoni yang indah. Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan ke depan. Ia mengajak pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat untuk terus memperkuat sinergi demi kemajuan bersama.

“Toleransi bukan sekadar menerima perbedaan, tetapi komitmen aktif untuk saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama. Toleransi adalah kekuatan kita, kerukunan adalah modal sosial kita, dan persatuan adalah kunci masa depan bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah rumah besar yang dibangun di atas nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sehingga tidak boleh ada ruang bagi intoleransi, diskriminasi, maupun perpecahan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama turut mengajak umat Kristiani untuk terus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai pembawa damai, penebar kasih, dan pelopor persatuan.

Menjelang akhir sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan makna Paskah dan membawa semangat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan biarkan semangat Paskah berhenti di sini. Jadikan momentum ini sebagai titik awal untuk memperkuat komitmen membangun kehidupan yang lebih baik, menjaga persatuan, dan merawat kerukunan,” pesannya. ‎

Sementara itu Gubernur Sulteng Anwar Hafid mengungkapkan kekagumannya terhadap antusiasme masyarakat yang hadir dalam suasana penuh ketertiban dan kekhusyukan.

‎‎“Sudah satu tahun lebih saya jadi gubernur, biasanya saya melihat banyak orang itu di konser, tapi malam ini duduk dengan rapi dalam acara spiritual,” ujar Anwar Hafid.‎‎

Menurutnya, momentum tersebut menjadi bukti nyata bahwa cita-cita membangun Sulawesi Tengah yang lebih berkah dan berlandaskan nilai spiritual mulai terwujud dalam kehidupan masyarakat.‎‎Menurutnya, nilai-nilai spiritual menjadi pilar penting majunya Sulawesi Tengah di masa depan.‎‎

Anwar Hafid terus mendorong pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga penguatan karakter dan spiritual masyarakat.‎‎

Ia meyakini bahwa harmoni sosial yang dilandasi nilai keimanan dan budaya lokal menjadi kunci utama mewujudkan Sulawesi Tengah yang maju dan sejahtera.‎‎

“Ini menunjukkan bahwa Sulteng Berkah yang menjadi cita-cita kita bersama dalam landasan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal, benar-benar terwujud dalam kehidupan kita,” lanjutnya. ***