SIGI, SIRANINDI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kolaborasi pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat usai penutupan Workshop Pembelajaran (Lesson Learned) Implementasi Program WE NEXUS di Kabupaten Sigi, yang berlangsung di Hotel Best Western Coco Palu, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan penutupan tersebut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Sigi, Karsa Institute, mitra pelaksana program, serta para pemangku kepentingan dari desa dampingan Program WE NEXUS.
Mewakili Bupati Sigi, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sigi, Noviani Trisye Korowu, menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata Program WE NEXUS dalam mendorong pemberdayaan perempuan, pemuda, dan anak-anak di wilayah Kabupaten Sigi.
Noviani mengungkapkan, meski dirinya baru mengikuti program tersebut di fase akhir pelaksanaan, berbagai testimoni dari masyarakat menunjukkan dampak positif yang signifikan, khususnya meningkatnya kemandirian perempuan, tumbuhnya peran pemuda, serta penguatan kesadaran perlindungan anak di tingkat desa.
“Banyak cerita tentang ibu-ibu yang semakin berdaya, pemuda yang bangkit, dan anak-anak yang mulai mendapatkan ruang perlindungan yang lebih baik. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, Program WE NEXUS turut mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Sigi dalam meningkatkan status Kabupaten Layak Anak (KLA).
Saat ini, Sigi masih berada pada kategori Pratama selama tiga tahun berturut-turut dan menargetkan peningkatan peringkat mulai tahun 2026.
“Dari 24 indikator Kabupaten Layak Anak, salah satunya terkait pemenuhan hak anak di sektor pendidikan. Program WE NEXUS telah berkontribusi pada indikator tersebut, dan ini sangat kami apresiasi,” kata Noviani.
Selain itu, Pemkab Sigi juga menaruh perhatian serius terhadap tingginya angka pernikahan anak yang berdampak pada masalah stunting. Dengan keterbatasan anggaran daerah, Noviani berharap dukungan program serupa dapat terus berlanjut untuk memperkuat pendataan hingga ke 176 desa di Kabupaten Sigi.
“Kami berharap kolaborasi seperti ini tetap dilanjutkan, karena pernikahan anak menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya stunting di daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Karsa Institute, Rahmat Saleh, menilai Program WE NEXUS telah menghasilkan capaian yang melampaui ekspektasi, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kohesi antarwarga desa.
Ia mencontohkan keberhasilan inovasi pertanian bawang di desa dampingan yang membuktikan potensi produktivitas lahan melalui pendekatan pengetahuan dan teknik yang tepat.
Selain itu, inisiatif ekonomi perempuan melalui lapak usaha dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi lokal baru.Tak hanya itu, Rahmat juga menyoroti peran pemuda dalam memperkuat hubungan antar desa, yang berdampak pada menurunnya potensi konflik sosial di wilayah dampingan program.
“Program ini bukan hanya soal hasil produksi atau ekonomi, tetapi tentang pembelajaran kolektif, membangun kepercayaan, dan memutus stigma konflik antar desa,” ungkapnya.
Ia menegaskan, praktik baik dari Program WE NEXUS di Kabupaten Sigi akan menjadi referensi untuk direplikasi di daerah lain. Rahmat juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan masyarakat selama hampir dua tahun pelaksanaan program.
Acara penutupan Workshop WE NEXUS ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan hasil program, serta memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, lembaga mitra, dan masyarakat demi pembangunan inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Sigi. ***





