SIGI, SIRANINDI – Keberhasilan panen raya jagung kuartal II tahun 2026 di Kabupaten Sigi tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk peran penting mesin pemipil jagung atau yang dikenal masyarakat sebagai “dros jagung”.
Salah satu petani, Desa Loru, Kecamatan Biromaru, Ilyas, Selasa (19/5/2026) mengatakan bahwa keberadaan alat tersebut menjadi faktor utama dalam mempercepat proses pascapanen sehingga hasil panen dapat segera diproses dan dipasarkan.
“Di balik kesuksesan panen raya kuartal II tahun 2026 ini, kami berkolaborasi dengan banyak stakeholder. Salah satu yang paling menentukan adalah pemipilan jagung atau yang biasa disebut dros jagung,” ujar Ilyas.
Menurutnya, mesin pemipil jagung berfungsi melepaskan biji jagung dari tongkolnya dengan cepat setelah proses panen selesai.
Dengan demikian, jagung pipilan dapat segera dijemur dan langsung disalurkan untuk dijual, baik kepada peternak maupun kepada Bulog.
“Kami berharap Bulog bisa menerima hasil panen raya kuartal II tahun 2026 ini agar serapan jagung petani semakin maksimal,” katanya.
Ilyas menjelaskan, keberadaan dros jagung sangat penting karena jagung yang terlalu lama dibiarkan setelah dipanen berpotensi mengalami kerusakan hingga tumbuh tunas baru.
“Inilah pentingnya dros jagung. Kalau jagung terlalu lama setelah dipanen dibiarkan, bisa-bisa jagungnya memiliki tunas baru,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan jumlah mesin pemipil jagung di wilayah Sigi. Menurutnya, mesin yang dimilikinya memiliki keunggulan karena mampu memipil jagung beserta kulitnya, berbeda dengan sebagian besar alat lain yang masih mengharuskan proses pengupasan kulit terlebih dahulu.
“Banyak dros di Sigi, tetapi masih harus lepas kulit. Sementara alat ini bisa langsung dengan kulit, sehingga lebih cepat,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Ilyas berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku usaha pertanian, khususnya dalam bantuan peremajaan maupun pengadaan alat pemipil jagung dengan kapasitas lebih besar.
“Kalau kapasitasnya lebih besar, pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu delapan jam bisa selesai hanya dalam tiga jam,” ujarnya.
Menurutnya, efisiensi waktu tersebut akan membantu petani mempercepat proses penjemuran, pengemasan, hingga penjualan hasil panen.
“Jadi lebih hemat waktu, lebih efektif dan efisien bagi petani,” tutupnya. ***





